Dapatkan diskon: Template 50% hanya bulan ini! Beli sekarang! Harga diskon Template: 50% hanya bulan ini!

DISERTASI S3 SIAP

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BEASISWA LUAR NEGERI

 

Yoespie Arief Amirullah

ariefstudent@gmail.com

26 Januari 2025

 

Allahumma Sholli Alaih, semangat……

 

 

 

 

 

 

 

 

KETELADANAN GURU DALAM MEMBANGUN KARAKTER PESERTA DIDIK  MENURUT IMAM Al-GHAZALI DAN AZZARNUJI DITINJAU DARI FILOSOFI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM 

(STUDI ANALISIS DALAM KITAB IHYA ULUMUDDIN DAN TALIMUL MUTAALIM SERTA RELEVANSINYA DENGAN PENDIDIKAN DI ERA MODERN)

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

            Pendidikan pada dasarnya untuk membangun pribadi manusia yang mempunyai jiwa mulia, akhlak yang baik dan berpikiran maju. Dari sinilah manusia dapat dikatakan manusiawi yang mempunyai sikap dan perilaku yang sesuai dengan pedoman hidup Al-Qur’an dan hadist. Pendidikan di Indonesia secara utuh belum memadai dengan standar nasional pendidikan Indonesia. Banyak sekolah di Indonesia tidak memenuhi sebagai sekolah dikarenakan proses pembelajaran yang tidak mengkondisikan psikologis siswa. Oleh karena itulah Guru di Indonesia belum sepenuhnya memahami konsep pengajaran dan pembelajaran yang baik.

            Pendidikan karakter pada dasarnya merupakan penananaman nilai-nilai karakter kepada siswa yang kemudian  nilai tersebut dapat di implementasikan kepada suatu tindakan (budi pekerti, Akhlak, etika) yang dapat membentuk seseorang untuk dapat bersikap jujur serta dapat berperilaku baik terhadap sesama manusia disekitarnya. [1] Dari hal tersebut karakter peserta didik  mampu menghasilkan nilai-nilai edukatif  yang mampu ditransfer kepada lingkungan sekitarnya.

            Melihat kondisi realita pendidikan di Indonesia saat ini, terjadi adanya permasalahan yang terjadi antara guru dan seorang murid di daerah Demak. hal tersebut terjadi karena seorang guru  mendengar siulan dari siswa ketika test berakhir. Namun, ketika dilihat tidak ada . Hingga kemudian Guru tersebut Emosi dan menendang kepala muridnya dari atas meja. Hingga kemudian video yang berdurasi beberapa menit tersebar luar dimedia sosial. Hal tersebut terjadi di SMP Kabupaten Demak Jawa tengah Indonesia.[2] Dari kejadian tersebut  maka keteladanan guru terhadap murid sangat dibutuhkan dalam menghadapi kondisi dan situasi peserta didik.

            Fenomena yang terjadi sekarang ini, perkembangan teknologi dan media sosial merampas nilai-nilai  edukatif yang bertentangan dengan pancasila. Hal tersebut diperparah dengan keadaan lingkungan yang kurang bersahabat dengan nilai-nilai pendidikan karakter.[3] Seharusnya dari hal diatas, nilai pancasila dapat mengajarkan seseorang mampu bersikap baik, gotong royong, adil dan beragama yang baik. Oleh karenanya, guru dalam diberbagai aktivitas murid bisa menampilkan sosok yang mampu diteladani dan memberikan arahan yang baik.

            Problematika yang terjadi saat ini, adanya kelemahan pada sistem pendidikan nasional di Indonesia yang mengakibatkan rendahnya mutu kualitas pendidikan. Ada hal yang menyebabkan lemahnya pendidikan di Indonesia termasuk  pemikiran kuno masyarakat, sarana dan prasana yang kurang memadai, sektor manajemen pendidikan yang lemah, SDM Pengajar yang rendah dan kurangnya evaluasi pembelajaran.[4] Hal demikian mengakibatkan potensi peserta didik lemah jika tidak dibarengi dengan strategi  pembaharuan pembelajaran yang memadai di era modern.

            Perangkap teknologi dan media sosial saat ini merubah pola pikir seseorang termasuk potensi siswa. Hal tersebut mempengaruhi pola sikap, akhlak dan mental seseorang. Sehingga tidak mudah bagi seorang pendidik (guru) membimbing serta menjadi teladan yang baik bagi siswanya. Sebagaimana menurut Rais teknologi dapat mempengaruhi pola hidup dan etika masyarakat.  Selain itu, masyarakat lebih individualis dan pragmatis. Selanjutnya Assiqi menyatakan bahwa terjadinya kemeorosotan nilai-nilai karakter sosial pada kalangan siswa sekolah dasar. Realitas nyatanya dikalangan mereka berkurangnya interaksi sosial.[5]

            Terjadinya krisis budaya pada kalangan peserta didik  diantaranya merebaknya pacaran dengan pergaulan bebas, pemakaian obat-obatan terlarang (ganja, sabu dan narkotika), Kekerasan antara pelajar, pemerkosaan, budaya mencontek disekolah. Termasuk coret-coret baju saat kelulusan sekolah sebagai pelampiasan hawa nafsu. Termasuk balapan liar motor yang kadang meresahkan masyarakat.[6] Hal diatas merupakan sederetan gejala budaya yang tidak sesuai dengan perintah agama serta tidak mencerminkan warga Negara yang berfilosofi Pancasila.

            Faktor pernikahan dini yang terjadi di Indonesia salah satunya adalah mereka memiliki pendidikan yang rendah.  Alasan pernikahan dini salah satunya hamil diluar nikah yang berujung orang tua mereka menyepakati untuk menikahkan diantara mereka sebagai solusi untuk menyelesaikan masalah. Namun, masalah itu tak selesai di pernikakahan saja hingga berlanjut pada tahap masalah selanjutnya. Padahal usia 18-19 tahun organ reproduksi belum berkembang secara sempurna. Namun penulis  berkesimpulan bahwa faktor tersebut diakibatkan karena pendidikan orang tua rendah, status ekonomi  keluarga, dampak dari perceraian dan pengetahuan yang minim.[7] Maka dari itu, pemerintah berkewajiban mencerdaskan bangsa dan Negara.

            Sebagaimana dalam Undang-Undang Republik Indonesia No.20 Tahun 2003 Pasal 1 Tentang sistem pendidikan nasional disebutkan “Pendidikan adaah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecedasan , akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat , bangsa dan Negara”. Dari pasal tersebut ditegaskan bahwa pendidikan salah satunya membentuk karakter pribadi dan sosial berbangsa dan bernegara.

            Selain itu ada permasalahan pendidikan di Indonesia yang menjadi pokok persoalan antara lain: a) Kurikulum yang bergonta ganti dan terlalu kompleks, b) Rendahnya Kualitas  guru.[8] Hal tersebut mengakibatkan pendidikan di Indonesia selalu terkendala dalam proses belajar mengajar, dikarenakan setiap tahunnya mengganti kurikulum tanpa mempertimbangkan perkembangan siswa dan status ekonomi. Pendidikan guru  juga berpengaruh terhadap perkembangan peserta didik, dikarenakan kualitas mengajar dan penyampaian materi terlihat stagnan dan kurang memakai metode yang tepat.

            Dari Polemik yang terjadi, sebagai jembatan tranformasi dan arah baru dalam mencetak manusia yang unggul dan produktif ialah dengan menggunakan nilai-nilai pendidikan Islam. Dengan menggunakan pendidikan Islam maka anak didik (siswa), orang tua, dan mayarakat (society) dapat  mempelajari nilai-nilai pendidikan Islam secara utuh yang terkandung dari Al-Qur’an dan Hadist sebagai sumber mutlak ajaran Islam. Sebagaimana Zakiah Darajat berpendapat Pendidikan Islam adalah sebuah proses nilai-nilai yang segala sesuatunya diajarkan agama islam, hal tersebut karena didalamnya berisi bimbingan, pengasuhan pada anak didik dengan maksud dapat menghayati, memahami, dan mengetahui serta dapat mengaplikasikan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupan sehari hari. PAI sendiri memiliki fungsi sebagai rukh ajaran agama islam satu-satunya untuk membentuk karakter manusia dalam pandangan hidup di dunia dan akhirat.[9]

            Masalah di Perguruan Tinggi beberapa mahasiswa mengalami kendala dalam belajarnya serta tidak menyelesaikan studi dengan batas waktu yang ditentukan , bahkan diantara mereka tidak sampai selesai alias droup out.[10] Hal tersebut didukung dengan  pendapat Achmad Juntika yang menyatakan bahwa problem mahasiswa terbagi menjadi dua yaitu masalah akademik dan non akademik (sosial Pribadi). Adapun masalah  akademik yang dihadapi mahasiswa antara lain: a) kurang bisa mengatur  waktu seiring dengan banyaknya aktivitas perkuliahan, b) Minimnya buku sumber belajar, c) Kurangnya niat, iradah, ghirah  dan motivasi dalam belajar, d) Pola  belajar yang salah, e) Tidak minat pada profesi yang sedang dijalaninya, dan f) Kurangnya Rasa Ingin Tahu dalam mendalami ilmu pengetahuan.[11]

            Salah satu dampak yang menjadi pokok persoalan saat ini adalah rendahnya moralitas siswa, akhlak siswa dan sopan satun terhadap guru. Kemudian disusul dengan pergeseran budaya yang dipegaruhi perkembangan teknologi. Sehingga peserta didik lebih mementingkan gadget. Perkembangan teknologi juga mempengaruhi pergeseran budaya dalam masyarakat. Oleh karenanya hal tersebut  mengakibatkan kemorosotan mental pada peserta didik.  Hal tersebut didukung dengan riset penelitian ridha yang menyatakan bahwa kemajuan teknologi juga bisa menjadi bumerang bagi dunia pendidikan antara lain siswa asyik dengan dunianya sendiri, kurangnya kepedulian siswa pada guru, teman dan orang tuanya. Adapun dampak negatif yang terjadi adalah kurangnya rasa peduli siswa terhadap orang yang mebutuhkan bantuan,  kurangnya sopan santun, serta sikap toleransi terhadap sesama dengan orang yang beda, rasa bosan malas mucul ketika belajar, lebih individualisme, dan sering nge game mobile legend.[12]

            Ketimpangan yang terjadi salah satunya adalah desainkurikulum pendidikan yang kurang bisa diandalkan

 

     Ketimpangan yang terjadi adanya kegagalan dalam penyusunan desain organisasi dalam kurikulum pendidikan agama Islam disekolah salah satunya adalah sekolah dianggap kurang membentengi anak didik dan masyarakat dari runtuhnya moral sehingga menyebabkan pada krisis ekonomi dan politik secara berkepanjangan. Kemudian pada periode Mukti Ali  adanya SKB 3 Menteri yang ingin mensejajarkan kualitas madrasah dengan non madrasah yaitu madrasah 70% umum dan 30% agama.[13]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

                             

 

 

 

 

 

 

 

                   

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

LANDASAN TEORI

 

A.    Pendidikan Karakter

B.     Filosofi

1.      Pengertian Filosofi

C.    Pendidikan Agama Islam

 



[1] Rabi Yati, Permasalahan Kriis Pendidikan karakter Pada Siswa Dalam Persepktif Psikologi Pendidikan, Program Studi Pendidikan IPS, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lambung Amangkurat, Banjarmasin, hlm.2

[2] detikNews, Guru SMP di Demak Naik Meja Lalu Tendang Kepala Murid gegara Siulan, diambil dari: https://news.detik.com/berita/d-7960462/guru-smp-di-demak-naik-meja-lalu-tendang-kepala-murid-gegara-siulan,  diakses pada Kamis, 12 Jun 2025, Pukul  11:50 WIB.

[3] Eligia Wijaya, Ikhza Mahendra Putra & Martono,  Problematika Pendidikan Karakter Siswa di Indonesia: Perspektif Filsafat Pancasila dalam Transformasi Kepribadian dan Sinergi Pendidikan, dalam Seminar Nasonal Pendidikan 2024, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidiikan, Universitas Tanjung Pura, hlm.340

[4] Siti Fadia Nurul Fitri, Problematika Kualitas Pendidikan di Indonesia, dalam Jurnal Pendidikan Tambusai, Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pendidikan Indoensia, Vol.5, No.1, 2021,  Hlm.1618

[5] Ridha “Adawiyah, Denis Desfriyanti, Pengaruh Teknologi Terhadap Perilaku Sosial Siswa di Sekolah Dasar, dalam Jurnal Guruku: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora, Vol.2 No1 Februari 2024, hlm.2

[6] Zubaedi, Desain Pendidikan Karakter, (Jakarta: Kencana Pranada Media Group, 2012) hlm.2

[7] Eliza Ferawati, Derison Marsinove Bakara, Wenny Indah Purnama Ekasari, Gambaran Pengetahuan Remaja Putri Tentang Dampak Pernikahan Dini Dalam Kesehatan Reproduksi Di Wilayah Kerja Puskesmas Durian Depun Tahun 2023,  dalam Jurnal Of Midwifery, Vol.12, No.1 April 2024, Prodi D IB Kebidanan  Poltekkes Kemenkes Bengkulu, Prodi D III Keperwatan Curup  Poltekkes Kemenkes Bengkulu, hlm.6

[8] Sultan Aji Muhammad Idris, Krisis Kualitas Pendidikan Indonesia: Tantangan Kurikulum dan Kompetensi Guru, diambil dari : https://kumparan.com/nanda-damayanti/krisis-kualitas-pendidikan-indonesia-tantangan-kurikulum-dan-kompetensi-guru-23icdqM2D7I/full, diakses pada 15 Oktber 2024, Jam 12.02 WIB.

 

[9] Zakiah Darajat, Dkk, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Bumi Aksara, 2011), hlm.86

[10] Akbar Avicena, Kesulitan Belajar Mahasiswa dan Upaya Mengatasinya Pada Program Stdui Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Makassar, dalam Jurnal Bastaka, Universitas Balik Papan, Vol.6, No1, Juni 2023,hlm.77

[11] Devi Syukri Azhari dkk, Konseling di Perguruan Tinggi, dalam Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran, Vol.6 No.4, 2023, hlm. 3452

[12] Ridha “Adawiyah, Denis Desfriyanti, Pengaruh Teknologi Terhadap Perilaku Sosial Siswa di Sekolah Dasar, dalam Jurnal Guruku: Jurnal Pendidikan dan Sosial Humaniora, Vol.2 No1 Februari 2024, hlm.5-6

[13] Yoespie Arief Amirullah, Organisasi dan Desain Pengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam, dalam Jurnal At-Ta’dib, Universitas Darussalam Gontor, Vol.15. No.1, Juni 2020, hlm.107

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "DISERTASI S3 SIAP"

Posting Komentar

Dapatkan diskon: Template 50% hanya bulan ini! Beli sekarang! Harga diskon Template: 50% hanya bulan ini!
BACA BLOG INI
Bagi Anda yang ingin berbelanja ebook-pdf. Silahkan anda bisa memesan lewat Admin. Kami melayani buku pesanan belanja original dari toko. Kami juga melayani buku versi pdf (download-an)

Facebook Twitter Google+ Instagram Linkedin Path Yahoo
LOGIN